Dalam Bahasa Jepang, kaizen berarti perbaikan yang berkesinambungan. Pada Wikipedia diistilahkan sebagai perbaikan berkelanjutan (Continuous improvement).
Istilah itu mencakup pengertian perbaikan yang melibatkan semua orang,
baik manajer dan karyawan, dan melibatkan biaya dalam jumlah tidak
seberapa. Kaizen (改善) terdiri dari dua kanji yakni 改 (kai) artinya 改める perubahan dan 善 (zen) artinya 良い (yoi) kebaikan. Dalam bahasa china disebut gaishan (改善) , gai (改)artinya perubahan atau tindakan perbaikan shan (善)artinya baik atau keuntungan.
Konsep kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan
antara pandangan Jepang dan pandangan Barat terhadap manajemen.
Perbedaan yang paling penting antara konsep manajemen Jepang dan Barat
adalah Kaizen Jepang dan cara berpikirnya yang berorientasi
pada proses sedangkan cara berpikir Barat tentang pembaharuan yang
berorientasi pada hasil (Imai, 1998: 11).
Filsafat kaizen menganggap bahwa cara hidup kita seperti
kehidupan kerja atau kehidupan sosial maupun kehidupan rumah tangga
hendaknya terfokus pada upaya perbaikan terus menerus. Perbaikan dalam kaizen
bersifat kecil dan beransur. Kebalikan dari inovasi, yang dipakai dalam
manajemen barat umumnya dan merupakan perubahaan besar-besaran melalui
terobosan teknologi, konsep manajemen, atau teknik produksi mutakhir. Kaizen tidak bersifat dramatis dan proses kaizen
diterapkan berdasarkan akal sehat dan berbiaya rendah, menjamin
kemajuan beransur yang memberikan imbalan hasil dalam jangka panjang.
Jadi kaizen merupakan pendekatan dengan risiko rendah (Handayani, 2005: 5)
Penulis tertarik dengan filosofi Kaizen karena
orientasinya pada proses di mana suatu perusahaan menunjang dan
menghargai karyawannya dari proses yang dilakukan demi penyempurnaan.
Hal ini tentu saja tidak sama dengan manajemen Barat yang berorientasi
pada hasil. Penulis yang saat ini masih aktif bekerja di BINUS
University menganggap filosofi kaizen terasa pada penerapan
Budaya Mutu di sana. Budaya Mutu yang terdiri dari lima komponen itu
menjadi acuan dalam kehidupan berorganisasi di BINUS University sampai
pada perkembangannya.
Dari lima komponen Budaya Mutu yakni Trust in God, Countinous Improvement, Sense of Closure, benchmarking dan Sense of Belonging, Penulis melihat Budaya Mutu yang kedua yaitu Countinous Improvement kaitannya dengan implementasi ISO yang memiliki korelasi dengan semangat kaizen. Selain mencari “benang merah” atau korelasitas antara Countinous Improvement (Budaya Mutu BINUS University) dan kaizen, penulis juga ingin memaparkan friksi-friksi yang mungkin terjadi dalam penerapannya.
1.2 Segmentasi Kaizen
Menurut konsep kaizen dalam Tazakigroup (2000), kaizen dibagi menjadi tiga segmen, tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan :
- Kaizen yang berorientasi pada manajemen, memusatkan perhatiannya pada masalah logistic dan strategis yang terpenting dan memberikan momentum untuk mengejar kemajuan dan moral.
- Kaizen yang berorientasi pada kelompok, dilaksanakan oleh gugus kendali mutu, kelompok Jinshu Kanshi (人種監視)untuk manajemen sukarela menggunakan alat statistic untuk memecahkan masalah, menganalisa, melaksanakan dan menetapkan standar atau prosedur baru.
- kaizen yang berorientasi pada individu, dimanifestasikan dalam bentuk saran, di mana seseorang harus bekerja lebih pintar bila tidak mau bekerja keras.
Kaizen adalah konsep tunggal dalam manajemen Jepang yang
paling penting dan merupakan kunci sukses Jepang dalam persaingan.
Jepang selalu berpikir bahwa tidak ada satu hari pun berlalu tanpa
adanya suatu tindakan penyempurnaan (Takizakigroup: 2000). Kaizen merupakan
alat pemersatu filsafat, system dan alat untuk memecahkan masalah yang
dikembangkan di Jepang selama 30 tahun pada suatu perusahaan utnuk
berbuat baik lagi. Kaizen dapat dimulai dengan menyadari bahwa setiap perusahaan mempunyai masalah. Kaizen memecahkan masalah dengan membentuk kebudayaan perusahaan di mana setiap orang dapat mengajukan masalahnya dengan bebas (Imai, 1998: Xviii).
1.2.1 Perbedaan Kaizen dan Inovasi
Aspek penting dalam kaizen adalah mengutamakan proses. Hal
ini berlawanan dengan manajemen Barat yang menilai performa karyawan
hanya atas dasar hasil yang diperolehnya dan bukan pada usaha mereka
(Imai, 1998: XIX). Di bawah ini adalah penjabaran dari perbedaan antara kaizen dan inovasi dilihat dari karakteristiknya, sebagai berikut:
KAIZEN
|
INOVASI
|
|
|
Gb 1. Tabel perbedaan antara kaizen dan inovasi
Penggabungan kaizen dan inovasi akan melahirkan kesempurnaan.
1.2.2 Konsep Kaizen
Dalam www.tazakigroup.com, konsep kaizen meliputi beberapa hal, yakni:
- Konsep 3 M (Muda, Mura, dan Muri)
Konsep ini dibentuk untuk mengurangi banyaknya proses kerja,
meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efisiensi.
a. Muda (無駄) diartikan sebagai pengurangan pemborosan atau kesia-siaan.
b. Mura (村) diartikan sebagai pengurangan perbedaan.
c. Muri (無理) diartikan sebagai pengurangan ketegangan.
- Gerakan 5 S (seiri, seiton, seiso, seiketsu dan shitsuke)
Konsep 5 S pada dasarnya merupakan proses perubahan sikap dengan
menerapkan penataan, kebersihan, dan kedisiplinan di tempat kerja.
Konsep 5 S merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan
tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih,
tertib maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan. Dengan
kemudahan bekerja ini, empat bidang sasaran pokok industri yang
meliputi:
- Efisiensi Kerja
- Produktifitas Kerja
- Kualitas Kerja, dan
- Keselamatan Kerja dapat lebih mudah dipenuhi.
Berikut ini adalah penjelasan yang lebih detil mengenai bagian-bagian dari 5 S.
- Konsep Seiri ( 整理 )
Seiri adalah memisahkan benda yang diperlukan dengan yang
tidak diperlukan, kemudian menyingkirkan yang tidak diperlukan
(ringkas). Sesungguhnya, terdapat banyak barang yang tidak diperlukan di
dalam setiap pabrik. Barang yang tidak diperlukan artinya barang
tersebut tidak dibutuhkan untuk kegiatan produksi saat ini (Hirano,
2005: 13).Untuk mengetahui barang-barang yang perlu dibuang, barang
harus dipisahkan menjadi yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Hal
ini disebut dengan “Seiri visual”, kemudian dilaksanakan menggunakan
label merah seperti di perusahaan Toyota.
Contoh daftar periksa untuk menerapkan strategi label merah dapat dilihat pada gambar 1.2 seperti di bawah ini.
|
Jangka Waktu : 1-2 bulan
Hal : Pastikan para pekerja tidak menyembunyikan
barang yang tidak diperlukan.
↓
|
Sarana : mesin, peralatan, jig dan alat, cetakan, kereta, pengangkut, meja
Ruang : Lantai, rak, tempat penyimpanan.
↓
|
↓
|
1. Kertas merah ukuran A4
2. Meliputi nama barang, kuantitas, alasan, dan sebagainya.
↓
1.
Jangan menyuruh orang yang langsung terkait untuk menempelkannya.
(supervisor yang melakukan, agar tidak mengganggu pekerjaan para
pekerja).
|
2. Jangan dengarkan alasan-alasan.
3. Harus tegas.
4. Tempelkan label pada setiap barang yang dipertanyakan.
5. JumlaH label menunjukan efisiensi pemeriksaan bukan Kegagalan pemeriksaan.
↓
|
Peralatan : Pindahkan atau keluarkan setiap barang yang dapat menghalangi penerapan kegiatan 5 S
- Konsep Seiton ( 整頓 )
Konsep ini menyusun dengan rapi dan mengenali benda untuk mempermudah penggunaan. Kata Jepang seiton ( 整頓
) secara harfiah berarti menyusun benda dengan cara yang menarik
(rapi). Dalam konteks 5 S. ini berarti mengatur barang-barang sehingga
setiap orang dapat menemukannya dengan cepat. Untuk mencapai langkah
ini, pelat penunjuk digunakan untuk menetapkan nama tiap barang dan
tempat penyimpanannya (Yasuhiro,1995: 249). Seiton memungkinkan
pekerja dengan mudah mengenali dan mengambil kembali perkakas dan
bahan, dan dengan mudah mengembalikannya ke lokasi di dekat tempat
penggunaan. Pelat penunjuk digunakan untuk memudahkan penempatan dan
pengambilan kembali bahan yang diperlukan.
- Konsep Seiso ( 清掃 )
Konsep ini selalu mengutamakan kebersihan dengan menjaga kerapihan
dan kebersihan (resik). lni adalah proses pembersihan dasar dimana suatu
daerah disapu dan kemudian dipel dengan kain pel. Karena lantai,
jendela, maupun dinding harus dibersihkan, seiso setara dengan aktifitas pembersihan berskala besar yang dilakukan setiap akhir tahun di rumah tangga Jepang.
Meskipun pembersihan besar-besaran di seluruh perusahaan dilakukan
beberapa kali dalam setahun, tiap tempat kerja perlu dibersihkan setiap
hari. Aktifitas itu cenderung mengurangi kerusakan mesin akibat tumpahan
minyak, abu, dan sampah. Contohnya, kalau ada pekerja yang mengeluh ada
mesin yang rusak ini tidak berarti mesin itu perlu penyetelan.
Sebenarnya, yang diperlukan mungkin hanya program pembersihan di tempat
kerja (Yasuhiro,1995:249).
- Konsep Seiketsu (清潔)
Seiketsu yaitu usaha yang terus menerus untuk mempertahankan 3S tersebut diatas, yakni Seiri, Seiton), dan Seiso.
Pada prinsipnya mengusahakan agar tempat kerja yang sudah menjadi baik
dapat selalu terpelihara. Di tempat kerja yang rawat, kerawanan dan
penyimpangan dapat segera dikenali, sehingga berbagai masalah dapat
dicegah sedini mungkin (Kristianto, 1995: 47). Memelihara tempat kerja
tetap bersih tanpa sampah atau tetesan minyak adalah aktivitas Seiketsu. Antara seiso dengan seiketsu sangat berkaitan erat.
- Konsep Shitsuke (仕付 )
Shitsuke adalah metode yang digunakan untuk
memotivasi pekerja agar terus menerus melakukan dan ikut serta dalam
kegiatan perawatan dan aktivitas perbaikan serta membuat pekerja
terbiasa mentaati aturan (rajin). Hal ini dianggap sebagai komponen yang
paling sukar dari 5 S. Untuk aktivitas ini, pekerja Jepang diharapkan
melatih pengandalian diri sendiri, bukan dikendalikan manajemen
(Yasuhiro, 1995:266).
- Konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action)
Langkah pertama dari kaizen adalah menerapkan siklus PDCA (plan, do, check action) sebagian sarana yang menjamin terlaksananya kesinambungan dari kaizen. Hal
ini berguna dalam mewujudkan kebijakan untuk memelihara dan memperbaiki
atau meningkatkan standar. Siklus ini merupakan konsep yang terpenting
dari proses kaizen (Imai, 2005: 4).
Rencana (plan) berkaitan dengan penetapan target untuk perbaikan, karena kaizen adalah
cara hidup, maka harus selalu ada perbaikan untuk semua bidang, dan
perumusan rencana guna mencapai target tersebut. Periksa (check)
merujuk pada penetapan apakah penerapan tersebut berada pada jalur yang
sesuai rencana dan memantau kemajuan perbaikan yang direncanakan.
Tindak (action) berkaitan dengan standarisasi prosedur baru
guna menghindari terjadinya kembali masalah yang sama atau menetapkan
sasaran baru bagi perbaikan berikutnya (Imai, 2005: 5).
- Konsep 5 W + 1 H
Salah satu pola piker untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan kaizen adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5 W + 1 H (what, who, why, where, when dan how).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar